hama dan penyakit pada buah semangka

Posted: January 20, 2011 in Pertanian

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Di dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup tak berhijau daun lainnya, sangat tergantung pada tumbuhan ( makhluk hidup berhijau daun/berklorofil ). Hal ini disebabkan karena, hanya tumbuhan sajalah yang mampu mengubah energy sinar matahari menjadi energy kimia yang merupakan bahan makanan bagi tumbuhan. Sedangkan manusia dan makhluk tak berhijau daun lainnya, tidak dapat membuat makanannya sendiri, tetapi mengharapkan keberadaan dari tumbuhan tersebut. Sementara itu, di alam kehidupan tumbuhan selalu dihadapkan dengan berbagai gangguan, baik yang bersifat biotic maupun abiotik, termasuk hama dan penyakit tumbuhan. Dalam menghadapi penyakit tumbuhan tersebut, manusia perlu membantu dalam mengatasi masalah tersebut untuk kelangsungan hidup tumbuhan. Sebelum melakukan upaya pengendalian, manusia perlu memahami karakteristik penyakit tumbuhan, penyebab penyakit, gejala penyakit, dan factor yang mempengaruhi perkembangan penyakit tersebut ( Sinaga, 2003 ).

Pada kesempan ini akan dibahas mengenai penyakit-penyakit yang menyerang tanaman semangka. Tanaman semangka merupakan tanaman buah yang rasanya manis. Bisnis tanaman  ini pun menggiurkan. Tapi dari sisi budidaya, penanganan semangka ternyata tidak mudah. Bisa dipastikan, setiap pelaku usaha yang menanam jenis buah semusim ini selalu menemui hambatan, berupa serangan hama dan penyakit. Adanya penyakit pada tanaman hortikultura ini tentu saja merugikan, karena selain dapat mengurangi produktivitas maupun kualitas, juga dapat menyebabkan kegagalan panen. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai pathogen penyebab penyakit pada tanaman semangka, gejala penyakit, dan beberapa cara pengendaliannya.

 

 

 

 

Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai penyakit pada tanaman semangka, pathogen penyebab penyakit tersebut, gejala penyakit, serta mengetahui cara pengendalian yang mudah.

 

 

PEMBAHASAN

 

Sejak manusia mengenal cara bercocok tanam, mereka telah menyadari bahwa tanaman yang mereka tanam sering mengalami gangguan alami yang bersifat menghambat, merusak, menghancurkan, dan bahkan menggagalkan proses pemanenan. Di beberapa lokasi, adanya gangguan yang ekstrim menyebabkan seseorang mungkin sama sekali tidak dapat melakukan budi daya tanaman tertentu. Sebenarnya sejak benih disebar hingga tanaman dipanen, bahkan sampai produk disimpan di tempat penyimpanan, tanaman dan hasil panen selalu dihadapkan kepada gangguan alami, baik yang bersifat biotic maupun abiotik.

Semangka adalah tanaman yang berasal dari daerah kering tepatnya benua Afrika. Oleh karena itu kondisi lingkungan yang dibutuhkan adalah panas dan kering. Kondisi lingkungan yang berlawanan akan menurunkan daya tahan tanaman terhadap berbagai serangan penyakit. Sebagai contoh apabila kita melakukan penanaman semangka pada musim penghujan, maka kendala utama yang kita hadapi adalah tingkat serangan penyakit yang tinggi dan beragamnya jenis penyakit yang menyerangnya (http://www.tanindo.com). Tingkat dan kualitas produksi semangka di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah yang keras, miskin unsur hara dan hormon, pemupukan yang tidak berimbang, serangan hama dan penyakit tanaman, pengaruh cuaca /iklim, serta teknis budidaya petani (http://benss.co.cc/budidaya-semangka/ ).

Di lapangan, serangan penyakit  pada tanaman semangka umumnya banyak ditemui setelah dua musim penanaman. Serangan penyakit pada semangka dapat dijumpai mulai di persemaian sampai usai panen. Waktu paling krusial adalah pada fase generatif (masa pembentukan bunga dan buah). Saat itulah hama penyakit mulai banyak menyerang. Selain faktor lingkungan seperti kelembapan dan temperatur tinggi, sebenarnya banyak penyebab timbulnya serangan penyakit. Pemupukan N terlalu tinggi, tanah masam, dan drainase yang kurang baik pun bisa menjadi penyebab. Di luar itu, turus (ajir) yang digunakan pada penanaman semangka dapat membawa spora atau bakteri. Manusia dan peralatan seperti gunting untuk merompes, dan alat semprot juga bisa menjadi penular (http://www.agrina-online.com).

Berikut adalah ulasan beberapa penyakit tanaman semangka yang biasa dijumpai di musim hujan yang menyebabkan kegagalan atau menurunkan mutu produk tanaman semangka :

  1. Penyakit    : Antraknosa (Busuk Buah)

Patogen      : Colletotrichum orbiculare (Berk. & Mont.) Arx (Syn C. legenarium (Pass.) Ellis & Halst.)

  1. Deskripsi penyakit

Penyakit ini mulai teridentifikasi sejak tahun 1867 di Italia. Penyakit ini pada umumnya menyerang buah pada tanaman cabe (sering dikenal dengan nama “pathek”). Gejala serangan antraknose di semangka akan tampak pada bibit, daun, tangkai daun, batang dan buah. Gejala di daun adalah dengan adanya luka berwarna coklat sampai hitam dengan tepi tidak beraturan dan mengelompok di sekitar tulang daun. Pada tangkai daun dan batang terdapat luka cekung dangkal berbentuk lonjong dan pada buah gejalanya terdapat spot berwarna kehitaman busuk kering.

 

 

 

 

 

Gambar 1. Gejala serangan Antraknosa pada buah semangka (http://www.tanindo.com)

Antraknose pada tanaman semangka disebabkan oleh jamur Colletotrichum orbiculare (Berk. & Mont.) Arx (Syn C. legenarium (Pass.) Ellis & Halst.). Patogen ini hidup pada sisa tanaman terinfeksi atau pada inang sementara dan terikut dalam benih yang buahnya terserang. Oleh karena itu pada produksi benih untuk pembenihan, seleksi buah harus dilakukan untuk menghindari terikutnya buah-buah yang terserang penyakit tersebut. Spora jamur ini penyebarannya dibantu oleh angin, hujan dan aktivitas pekerja. Untuk per-kecambahan dan per-tumbuhan spora memerlukan suhu optimum 22-27 oC dan rH 100% selama 24 jam. Penetrasi jamur ke inang dengan cara membentuk “infection peg” semacam kaki-kaki yang bisa men-cengkeram pada bidang permukaan terinfeksi. Serangan terjadi 72 jam setelah spora membentuk infection peg dan selanjutnya gejala terlihat 96 jam setelah infeksi, dimana sel-sel sudah dipenuhi mycelium jamur tersebut.

Pengendalian patogen dengan cara membeli benih-benih bersertifikasi / berlabel yang terhindar dari inokulum (pembawa penyakit), menimbun sisa atau bekas tanaman yang sudah terserang dan sebaiknya lokasi penimbunan jauh dari pertanaman yang bisa digunakan sebagai inang sementara seperti cabe (http://www.tanindo.com).

  1. Cara pengedalian

Pengendalian dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam (http://benss.co.cc). Perompesan daun dan cabang untuk mengurangi serangan (http://www.agrina-online.com)

Pengendalian kimia menggunakan fungisida protektan dan eradikan yang berbahan aktif copper hydroxide, penyemprotan dilakukan segera apabila terjadi perubahan kondisi cuaca dan diulang tiap minggu tergantung perkembangan penyakitnya dan jangan menggunakan larutan semprot (air) yang pHnya kurang dari 6.5, bila terjadi akan mengakibatkan phytotoxic. Bahan aktif yang lain adalah Benomyl yang diaplikasikan saat gejala pertama muncul dan diulang tiap 7 hari. Untuk penggunaan bahan aktif ini tidak boleh dicampur dengan benzimidazole atau methyl thiophanate (http://www.tanindo.com).

 

 

  1. 2. Penyakit : Cercospora leaf spot (Cacar Daun)

Patogen : Cercospora citrullina Coke.

  1. Deskripsi penyakit

Penyakit ini menyerang daun pada hampir semua tanaman famili cucurbitaceae di daerah tropis dan subtropis. Secara khusus gejala patogen ini ditemukan di daun, tetapi mereka juga akan muncul di tangkai daun dan batang bila lingkungan mendukung sporulasinya. Cercospora tidak menimbulkan kerusakan pada buah, tetapi akan menyebabkan terjadinya defoliasi daun dan akhirnya mengurangi ukuran dan kualitas buah. Gejala penyakit ini pertama kali akan muncul pada daun-daun muda dengan membentuk spot yang melingkar tidak beraturan dengan bagian tengah berwarna coklat terang. Gejala serangan ini terlihat jelas daun bagian atas. Cercospora leaf spot disebabkan oleh Cercospora citrullina Coke., penyebarannya banyak dibantu oleh angin. Suhu yang optimal untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangannya adalah 26-32oC dan infeksi akan terjadi setiap 7-10 hari ( http://www.tanindo.com).

 

Gambar 2. Tanaman semangka yang terserang Cercospora ( http://www.tanindo.com )

  1. Cara pengendalian

Pengendalian yang dapat dianjurkan adalah dengan sanitasi lingkungan untuk mengurangi sumber inokulum, rotasi tanaman dan pengendalian kimia menggunakan fungisida berbahan aktif Chlorothalonil yang diaplikasikan sejak daun terbentuk sempurna atau jika kondisi lingkungan mendukung untuk perkembangan penyakit dan diulang tiap 7 hari. Fungisida yang lain yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif Maneb ( http://www.tanindo.com )

  1. Penyakit    : Bacterial Fruit Blotch (Busuk buah basah / bisul buah)

Patogen      : Pseudomonas pseudoalcaligenes stainer subspesies citrulli schaad et al

  1. Deskripsi penyakit

Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Mariana Islands tahun 1988, meskipun untuk family cucurbit lainnya cukup tahan, tetapi pada semangka penyakit ini sangat nyata mengurangi hasil panen. Gejala serangan dari Bacterial Fruit Blotch adalah terdapatnya busuk basah dengan ukuran kecil, diameter kurang dari 1 cm, kemudian berkembang dengan cepat menutupi permukaan buah selama 7-10 hari. Bacterial Fruit Blotch disebabkan oleh Pseudomonas pseudoalcaligenes stainer subspesies citrulli schaad et al. Patogen ini penyebarannya biasanya lewat benih baik secara internal maupun external kontaminasi dan dapat juga terjadi pada lapisan benih. Kondisi yang mendukung perkembangan patogen ini adalah kelembaban yang tinggi dan suhu sekitar 26oC ( http://www.tanindo.com ).

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Penyakit Busuk buah basah pada semangka (http://www.tanindo.com )

  1. Cara pengendalian

Pengendalaian penyakit ini tergantung apakah benih terkontaminasi atau tidak, Rotasi tanaman dan pengolahan tanah yang baik dapat mengurangi tingkat intensitas serangan. Hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan. Pengendalian secara kimia mulai dilaksanakan saat awal pembentukan buah. Fungisida yang dapat dipakai adalah yang berbahan aktif copper hydroxide (http://www.tanindo.com ).

  1. 4. Penyakit    : Alternaria Leaf Spot

Patogen      : Alternaria cucumerina

  1. Deskripsi penyakit

Penyakit bercak ternyata tidak hanya menyerang tanaman kubis maupun cabai saja namun juga pada tanaman yang tergolong timun-timunan. Penyakit bercak pada semangka ini disebabkan cendawan Alternaria cucumerina. Biasanya, penyakit ini menyerang hanya satu jenis tanaman saja. Tanaman dapat terserang pada berbagi fase pertumbuhan. Serangan pada bibit tanaman dapat menyebabkan mati atau kerdil. Sedangkan pada tanaman yang lebih tua akan layu pada tengah hari pada beberapa waktu, kemudian layu untuk seterusnya dan akhirnya mati. Jaringan angkut tanaman menjadi kuning atau coklat. Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama. Penyakit ini bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin-mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, dan air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini (http://www.tanindo.com).

 

 

 

 

 

Gambar4. Gejala pada daun semangka (http://www.avrdc.org)

b. Cara pengendalian

Pengendaliannya dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang tahan. Menghindari penanaman di lahan yang telah diketahui mengandung penyakit ini. Serta mencuci peralatan saat berpindah dari lahan satu ke lahan lainnya. Lahan yang tergenangi untuk padi dapat mengurangi keberadaan penyakit di tanah. Apabila terlanjur ada serangan, dianjurkan untuk menyemprot fungisida Promefon 250EC bergantian dengan Victory 80WP. (http://www.tanindo.com).

 

  1. 5. Penyakit    : Layu Fusarium

Patogen      : Fusarium oxysporum f.sp. niveum

  1. a. Deskripsi penyakit

Layu fusarium merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman famili timun-timunan. Penyebabnya adalah Fusarium oxysporum f.sp. niveum pada semangka. Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, namun beberapa jenis terdapat hanya pada lokasi tertentu saja. Seperti halnya penyakit alternaria, penyakit ini hanya menyerang satu jenis tanaman saja. Tanaman yang terserang bisa terjadi pada berbagai tahap pertumbuhan. Mulai dari bibit hingga tanaman tua. Baik saat bibit maupun tanaman dewasa , serangan penyakit ini dapat meyebabkan layu yang akhirnya mati. Tandanya dapat dilihat pada jaringan angkut tanaman yang berubah warna menjadi kuning atau coklat. Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama dan bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin-mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, maupun air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini (http://www.tanindo.com).

  1. Cara pengendalian

Adapun pengendaliannya dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang tahan bila memungkinkan. Hindari lahan yang telah diketahui mengandung penyakit ini. Cucilah peralatan saat berpindah dari lahan satu ke lahan lainnya. Lahan yang tergenangi untuk padi dapat mengurangi keberadaan penyakit di tanah.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s